Sunday, February 1, 2009

Ketika Kita Ingin Dilihat

Penyusun: Ummu Aiman
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar

Masya Allah, anti sudah hafal 5 juz ???
Hmmm…

Secara fitrah manusia, pastilah senang jika dirinya dipuji. Saat pujian datang -apalagi dari seseorang yang istimewa dalam pandangannya- tentulah hati akan bahagia jadinya. Berbunga-bunga, bangga, senang. Itu manusiawi. Namun hati-hatilah duhai saudariku, jangan sampai riya’ menghiasi amal ibadah kita karena di setiap amal ibadah yang kita lakukan dituntut keikhlasan.

Niat yang ikhlas amatlah diperlukan dalam setiap amal ibadah karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal di sisi Allah. Sebuah niat dapat mengubah amalan kecil menjadi bernilai besar di sisi Allah dan sebaliknya, niatpun mampu mengubah amalan besar menjadi tidak bernilai sama sekali.

Kali ini, kita tidak hendak membahas tentang ikhlas melainkan salah satu lawan dari ikhlas, yaitu riya’.

Hudzaifah Ibnu Yaman pernah berkata:

“Orang-orang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal-hal yang baik sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal jelek agar aku terhindar dari kejelekan tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Maka saudariku muslimah, marilah kita mempelajari tentang riya’ agar kita terhindar dari kejelekannya.

Mari Kita Berbicara tentang Riya’

Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ru’yah (الرّؤية), maknanya penglihatan. Sehingga menurut bahasa arab hakikat riya’ adalah orang lain melihatnya tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya.

Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan, “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan agar dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amal tersebut.”

Pernahkah ukhti mendengar tentang sum’ah? Sum’ah berbeda dengan riya’, jika riya’ adalah menginginkan agar amal kita dilihat orang lain, maka sum’ah berarti kita ingin ibadah kita didengar orang lain. Ibnu Hajar menyatakan: “Adapun sum’ah sama dengan riya’. Akan tetapi ia berhubungan dengan indera pendengaran (telinga) sedangkan riya’ berkaitan dengan indera penglihatan (mata).”

Jadi, jika seorang beramal dengan tujuan ingin dilihat, misalnya membaguskan dan memperlama shalat karena ingin dilihat orang lain, maka inilah yang dinamakan riya’. Adapun jika beramal karena ingin didengar orang lain, seperti seseorang memperindah bacaan Al Qur’annya karena ingin disebut qari’, maka ini yang disebut sebagai sum’ah.

Bahaya Riya’

Ketahuilah wahai saudariku, bahwa riya’ termasuk ke dalam syirik asghar/kecil. Ia dapat mencampuri amal kita kemudian merusaknya.

Amalan yang dikerjakan dengan ikhlas akan mendatangkan pahala. Lalu bagaimana dengan amalan yang tercampur riya’? Tentu saja akan merusak pahala amalan tersebut. Bisa merusak salah satu bagiannya saja atau bahkan merusak keseluruhan dari pahala amalan tersebut.

Berikut ini beberapa bentuk riya’:

1. Riya’ yang mencampuri amal dari awal hingga akhir, maka amalannya terhapus.

Misalnya seseorang yang hendak mengerjakan shalat lalu datang seseorang yang ia kagumi. Kemudian ia shalat dengan bagus dan khusyu’ karena ingin dilihat orang tersebut. Riya’ tersebut ada dari awal hingga akhir shalatnya dan ia tidak berusaha untuk menghilangkannya, maka amalannya terhapus.
2. Riya’ yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah amal dan dia berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ ini tidak mempengaruhi pahala amalannya. Misalnya seseorang yang shalat kemudian muncul riya’ di tengah-tengah shalatnya dan ia berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ tersebut tidak mempengaruhi ataupun merusak pahala shalat tersebut.
3. Riya’ muncul tiba-tiba di tengah-tengah namun dibiarkan terus berlanjut, maka ini adalah syirik asghar dan menghapus amalannya. Namun dalam kondisi ini ulama berselisih pendapat tentang amalan mana yang terhapus, misalnya riya’ dalam shalat. Apakah rakaat yang tercampuri riya’ saja yang terhapus ataukah keseluruhan shalatnya?

Pendapat pertama menyatakan bahwa yang terhapus hanyalah pada amalan yang terkait. Pendapat kedua, yaitu perlu dirinci:

1. Kalau amalannya merupakan satu rangkaian dan tidak mungkin dipisahkan satu dengan yang lain, misalnya shalat dhuhur empat rakaat, maka terhapus rangkaian amal tersebut.
2. Kalau amalannya bukan merupakan satu rangkaian, maka amal yang terhapus pahalanya adalah sebatas yang tercampuri saja. Misalnya seseorang yang bersedekah kepada sepuluh orang anak yatim. Saat bersedekah pada anak kesatu sampai yang kelima ia ikhlas. Akan tetapi riya’ muncul saat ia bersedekah pada anak ke-enam, maka pahala yang terhapus adalah sedekah pada anak ke-enam. Contoh yang serupa adalah puasa.

Riya’ itu Samar

Pada asalnya, manusia memiliki kecenderungan ingin dipuji dan takut dicela. Hal ini menyebabkan riya’ menjadi sangat samar dan tersembunyi. Terkadang, seorang merasa telah beramal ikhlas karena Allah, namun ternyata secara tak sadar ia telah terjerumus kedalam penyakit riya’.

Saudariku, pernahkah engkau mendengar langkah laki seekor semut? Suara langkahnya begitu samar bahkan tidak dapat kita dengar. Seperti inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kesamaran riya’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kesyirikan itu lebih samar dari langkah kaki semut.” Lalu Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kesyirikan itu ialah menyembah selain Allah atau berdoa kepada selain Allah disamping berdoa kepada selain Allah?” maka beliau bersabda.”Bagaimana engkau ini. Kesyirikan pada kalian lebih samar dari langkah kaki semut.” (HR Abu Ya’la Al Maushili dalam Musnad-nya, tahqiq Irsya Al Haq Al Atsari, cetakan pertama, tahun 1408 H, Muassasah Ulum Al Qur’an, Beirut, hlm 1/61-62. dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Targhib, 1/91)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan bahaya riya’ atas umat Islam melebihi kekhawatiran beliau terhadap bahaya Dajjal. Disebutkan dalam sabda beliau: “Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Dajjal.” Kami menyatakan, “Tentu!” beliau bersabda “Syirik khafi (syirik yang tersembunyi). Yaitu seseorang mengerjakan shalat, lalu ia baguskan shalatnya karena ia melihat ad seseorang yang memandangnya.”

Hal ini tidak akan terjadi, kecuali karena faktor pendukung yang kuat. Yaitu karena setiap manusia memiliki kecenderungan ingin mendapatkan pujian, kepemimpinan dan kedudukan tinggi di hadapan orang lain.

Bentuk Riya’

Wahai ukhti muslimah, didalam mencapai tujuannya, para mura’i (orang yang riya’) menggunakan banyak jalan, diantaranya sebagai berikut:

1. Dengan tampilan fisik, yaitu seperti menampilkan fisik yang lemah lagi pucat dan suara yang sangat lemah agar dianggap sebagai orang yang sangat takut akhirat atau rajin berpuasa.
2. Dengan penampilan, yaitu seperti membiarkan bekas sujud di dahi dan pakaian yang seadanya agar tampil seperti ahli ibadah. Ketika menjelaskan QS Al Fath, dalam Hasyiah Ash Shawi 4/134 disebutkan, “Yang dimaksud ‘bekas sujud’ bukanlah hitam-hitam di dahi sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang ingin riya’ karena hitam-hitam di dahi merupakan perbuatan khawarij.”
3. Dengan perkataan, yaitu seperti banyak memberikan nasehat, menghafal atsar (riwayat salaf) agar dianggap sebagai orang yang sangat memperhatikan jejak salaf.
4. Dengan amal, yaitu seperti memperlama rukuk dan sujud ketika shalat agar tampak khusyu’ dan lain-lain.

Kiat Mengobati Penyakit Riya’

Wahai saudariku, setiap insan tidak akan pernah lepas dari kesalahan. Sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat kepada Allah atas kesalahan yang pernah dilakukannya.

Hati manusia cepat berubah. Jika saat ini beribadah dengan ikhlas, bisa jadi beberapa saat kemudian ikhlas tersebut berganti dengan riya’. Pagi ikhlas, mungkin sore sudah tidak. Hari ini ikhlas, mungkin esok tidak. Hanya kepada Allahlah kita memohon agar hati kita diteguhkan dalam agama ini. َ

Selain itu, hendaknya kita berusaha untuk menjaga hati agar terhidar dari penyakit riya’. Saudariku, inilah beberapa kiat yang dapat kita lakukan agar terhindar dari riya’:

1. Memohon dan selalu berlindung kepada Allah agar mengobati penyakit riya’

Riya’ adalah penyakit kronis dan berbahaya. Ia membutuhkan pengobatan dan terapi serta bermujahadah (bersungguh-sungguh) supaya bisa menolak bisikan riya’, sambil tetap meminta pertolongan Allah Ta’ala untuk menolaknya. Karena seorang hamba selalu membutuhkan pertolongan dan bantuan dari Allah. Seorang hamba tidak akan mampu melakukan sesuatu kecuali dengan bantuan dan anugerah Allah. Oleh karena itu, untuk mengobati riya’, seorang selalu membutuhkan pertolongan dan memohon perlindungan kepada-Nya dari penyakit riya’ dan sum’ah. Demikian yang diajarkan Rasulullah dalam sabda beliau:

“Wahai sekalian manusia, peliharalah diri dari kesyirikan karena ia lebih samar dari langkah kaki semut.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami memelihara diri darinya padahal ia lebih samar dari langkah kaki semut?” beliau menjawab, “Katakanlah:

اللّهُمَّ إِنَّانَعُوْذُبِكَ مِنْ أََنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًانَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُ

‘Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami mohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak kami ketahui.’” (HR. Ahmad)

2. Mengenal riya’ dan berusaha menghindarinya

Kesamaran riya’ menuntut seseorang yang ingin menghindarinya agar mengetahui dan mengenal dengan baik riya’ dan penyebabnya. Selanjutnya, berusaha menghindarinya. Adakalanya seorang itu terjangkit penyakit riya’ disebabkan ketidaktahuan dan adakalanya karena keteledoran dan kurang hati-hati.

3. Mengingat akibat jelek perbuatan riya’ di dunia dan akhirat

Duhai saudariku di jalan Allah, sifat riya’ tidaklah memberikan manfaat sedikitpun, bahkan memberikan madharat yang banyak di dunia dan akhirat. Riya’ dapat membuat kemurkaan dan kemarahan Allah. Sehingga seseorang yang riya’ akan mendapatkan kerugian di dunia dan akhirat.

4. Menyembunyikan dan merahasiakan ibadah

Salah satu upaya mengekang riya’ adalah dengan menyembunyikan amalan. Hal ini dilakukan oleh para ulama sehingga amalan yang dilakukan tidak tercampuri riya’. Mereka tidak memberikan kesempatan kepada setan untuk mengganggunya. Para ulama menegaskan bahwa menyembunyikan amalan hanya dianjurkan untuk amalan yang bersifat sunnah. Sedangkan amalan yang wajib tetap ditampakkan. Sebagian dari ulama ada yang menampakkan amalan sunnahnya agar dijadikan contoh dan diikuti manusia. Mereka menampakkannya dan tidak menyembunyikannya, dengan syarat merasa aman dari riya’. Hal ini tentu tidak akan bisa kecuali karena kekuatan iman dan keyakinan mereka.

5. Latihan dan mujahadah

Saudariku, ini semua membutuhkan latihan yang terus menerus dan mujahadah (kesungguhan) agar jiwa terbina dan terjaga dari sebab-sebab yang dapat membawa kepada perbuatan riya’ bila tidak, maka kita telah membuka pintu dan kesempatan kepada setan untuk menyebarkan penyakit riya’ ini ke dalam hati kita.

Belajar dari Para Salaf

Duhai muslimah, berikut ini adalah kisah salaf yang menunjukkan betapa mereka menjaga diri dari riya’ dan sum’ah. Mereka tidak menginginkan ketenaran dan popularitas. Justru sebaliknya, mereka ingin agar tidak terkenal. Mereka memelihara keikhlasan, mereka takut jika hati mereka terkena ujub (bangga diri).

Abu Zar’ah yahya bin Abu ‘Amr bercerita: Pernah Adh-Dhahhak bin Qais keluar untuk memohon hujan bersama-sama dengan orang-orang, tapi ternyata hujan tidak turun dan beliau juga tidak melihat awan. Beliau berkata: “Dimana gerangan Yazid bin Al Aswad?” (dalam satu riwayat: tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan beliau. Beliau pun bertanya lagi: “Dimana Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi? Jika beliau mendengar, saya sangat berharap beliau berdiri.”) “Ini saya”, seru Yazid. “Berdirilah dan tolonglah kami ini di hadapan Allah. Jadilah kamu perantara(*) kami agar Allah menurunkan hujan kepada kami.”, kata Adh-Dhahhak bin Qais. Kemudian Yazid pun berdiri seraya menundukkan kepala sebatas bahu serta menyingsingkan lengan baju beliau kemudian berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu ini memohon syafaatku kepada-Mu.” Beliau berdoa tiga kali dan seketika itu pula turunlah hujan yang sangat deras sehingga hampir terjadi banjir. Kemudian beliau pun berkata: “Sesungguhnya kejadian ini membuat saya dikenal banyak orang. Bebaskanlah saya dari keadaan seperti ini.” Kemudian hanya berselang satu hari, yaitu Jum’at setelah peristiwa itu beliau pun wafat. (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fasawi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).

(*) Dalam keadaan ini, meminta perantara dalam berdo’a diperbolehkan, karena Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi yang menjadi perantara masih dalam keadaan hidup, dan beliau adalah seorang yang shaleh. Bedakan dengan keadaan orang-orang yang berdo’a meminta kepada orang yang dianggap shaleh yang sudah meninggal dunia di kubur-kubur mereka! dan ini merupakan Syirik Akbar yang membuat pelakunya kekal di neraka jika belum bertaubat. -ed

Berkata Hammad bin Zaid rahimahullah: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub tapi beliau melewati jalan-jalan yang membuat diriku heran dan bertanya-tanya kenapa beliau sampai berbuat seperti ini (berputar-putar melewati beberapa jalan). Ternyata beliau berbuat seperti itu karena beliau tidak mau orang-orang mengenal beliau dan berkata: ‘Ini Ayyub, ini Ayyub! Ayyub datang, Ayyub datang!’” (Riwayat Ibnu Sa’ad dan lainnya).

Hammad berkata lagi: “Ayyub pernah membawa saya melewati jalan yang lebih jauh, maka sayapun berkata: ‘Jalan ini lebih dekat!’ Beliau menjawab: ‘Saya menghindari kumpulan orang-orang di jalan tersebut.’ Dan memang apabila dia memberi salam, akan dijawab oleh mereka dengan jawaban yang lebih baik dari jawaban kepada yang lainnya. Dia berkata: ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya! Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya!’” (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fawasi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).

Kita berlindung kepada Allah dari penyakit riya’. Semoga Allah menjadikan kita seorang mukhlishah, senantiasa berusaha untuk menjaga niat dari setiap amalan yang kita lakukan. Innamal ‘ilmu ‘indallah. Wa’allahu a’lam.

Maraji’:

1. Terjemah Sittu Duror, Landasan Membangun Jalan Selamat. ‘Abdul Malik Ahmad Ramdhani. Media Hidayah. Cetakan pertama. 2004.
2. Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam. Cetakan pertama. LBIA Al Atsary.
3. Majalah As-Sunnah edisi 05/ VIII/ 1425H/ 2004M.

Monday, January 19, 2009

Panjangkan Doa, Banyakkan Menangis



Assalamualaikum wbt

Pernah tak sahabat2 rasa semakin jauh dengan Allah? Seperti Allah jauh meninggalkan kita.. Terasa sunyi yang teramat jauh di lubuk hati walaupun kita berada di tengah2 hiruk pikuk zaman.. Connection seakan semakin pudar antara kita dengan Allah walaupun lima kali sehari semalam kita menyembah Dia yang Maha Esa. Pernah tak sahabat2 rasa begitu??

Sebelum semakin jauh hati kita menduga itu dan ini, let us take a break! Duduk di tempat paling selesa utk berfikir, dan muhasabah diri sejujur-jujurnya. Sebenarnya, Allah tak pernah jauh dari kita. Kita yang meninggalkan Allah. Pabila senang, kita menelusuri hari2 tanpa peduli sama ada kita berada dlm lingkungan redha Allah atau tidak. Mengatur hidup seolah2 setiap degupan jantung ini totally milik kita. Bila diberi peringatan, insaf sekejap, tapi selalunya tak lama, dek kerana betapa selesanya keadaan diri sekarang.. Aduhai..begitula lekanya hati..

Namun begitu, bila mana kita ditimpa musibah, ujian atau perkara yg tidak menyelesakan diri, mulalah kita mencari di mana Allah. Sikap dan akhlak sebeginilah sebenarnya yang menjadikan manusia hilang pedoman bila diuji, terasa seakan2 terpencil dan menganggap hidup ini sudah tak berguna lagi.. Inikah cirri orang mukmin?

Sahabat2 yang saya sayangi…

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya engkau (Wahai Muhammmad) tentangKu, (maka jawablah) sesungguhnya Aku ini hampir, Aku menjawab seruan sesiapa yang berdo`a kepadaKu apabila dia berdo`a. Maka hendaklah dia menyahut seruan (menunaikan perintahKu) dan beriman kepadaKu mudah-mudah mereka selalu berada di atas petunjuk”
Surah al-Baqarah, ayat 186

Ini bukan kata-kata mana2 mufti, ustaz atau pemimpin negara, ini ada kata2 yang Maha Berkuasa ke atas setiap sesuatu. Kata2 ini juga merupakan janji yg pastinya takkan dilanggar oleh Allah swt.

Benar para sahabat, Allah swt amat sudi mendengar rintihan kita. Bila rasa sedih, tak berdaya dan dizalimi, siapa lagi yg lebih memahami kesedihan dan setiap titis air mata yg gugur melainkan Dia?? Tapi, most of the time, kita lebih utamakan ceritakan masalah pd manusia berbanding dengan Allah. Benar, nasihat dan bimbingan manusia perlu, tapi yang peliknya, mengadu kepada Allah diletakkan entah di nombor berapa jika dibandingkan mengadu pada manusia. Ingatlah, sekecil zarah masalah sekalipun takkan mampu selesai tanpa izin Allah swt.

Tulisan ini saya tujukan untuk diri saya khususnya. Lately, semakin berat rasa bebanan ujian Allah. Tapi saya yakin dengan janji Allah, saya mampu untuk hadapi ujian ini. Saya sukakan diri ini bila ditimpa ujian Allah. Hampir sepanjang masa saya rasai kehadiran Allah. Dan hanya dia Maha Memahami hati saya. Alhamdulillah... Tapi saya risau, bila mana keadaan senang kembali, perasaan indah ini semakin kelam, hanya tinggal sisa2. Saya tak sanggup hidup tanpa kasih sayang Allah! Semoga diri ini dalam ujian Allah bila mana ditakdirkan nafas terakhir menginggalkan tubuh.. kerana waktu itulah saya rasa teramat akrab dengan Allah swt. Ameen...

Menjadi Bidadari Dunia & Akhirat


Pernahkah terlintas dalam hatimu ya ukhti, saudariku muslimah untuk menjadi bidadari di dunia dan diakhirat nanti?.Pernahkah kau membayangkan betapa cantik dan anggunnya ia, menjadi incaran dan simpanan hamba-hamba Allah yang shalih dan bertakwa. Pernahkah engkau mengangankannya? Pernahkah engkau mengimpikannya? Tidakkah hatimu tergerak untuk segera meraihnya? Sesungguhnya bidadari dunia adalah ia para wanita yang shalihah, memurnikan ibadah hanya untuk-Nya semata, hatinya selalu takut dan terikat dengan rabb-Nya, mentaati-Nya dalam keadaan sendirian ataupun dihadapan banyak manusia. Sosok yang merindukan keridhaan Allah dan rasul-Nya

Selalu terbayang dalam pelupuk matanya surga yang dijanjikan Allah menantinya dari pintu manapun ia suka, ia bisa memasukinya. Hatinya selalu menimbang dengan timbangan akhirat sehingga segala urusan dunia yang bertentangan dengan syariat Allah dan Rasul-Nya akan mudah ia singkirkan dan tinggalkan.

Duhai betapa elok dan indah akhlaknya, bila ia belum bersuami maka berbakti kepada kedua orangtuanyalah ladang amalnya memanfaatkan kesempatan yang berharga ini dengan berusaha mendapatkan keridhaan dari keduanya.Bila ia telah bersuami maka bersemangatlah hatinya untuk berbakti kepada suaminya, menemani sang suami dalam keadaan suka dan duka,mendidik anak-anaknya agar mereka berjalan diatas sunnah dan manhaj yang benar yaitu manhaj salafuna shalih. Berani meluruskan suami apabila ia bersalah dengan bahasa yang lembut dan bersabar atas kekurangannya. Membantu suami dalam mentaati Rabb-Nya, sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan hamba-hamba-Nya.Jika engkau bersabar dan istiqamah maka insya Allah engkau akan menjadi penghuni surga yang cantik jelita itu.

Janganlah engkau resah dan gundah, merasa kecewa hatimu karena melihat sulitnya jalan untuk meraih kesana. Jalan itu akan mudah engkau tuju apabila engkau memohon pertolongan-Nya dalam setiap desah nafasmu. Sehingga segala tindak tandukmu selalu dalam bimbingan-Nya.Dan, renungkanlah apabila engkau berhasil mencapai predikat wanita shalihah (bidadari dunia) semua adalah karena dari Rabbmu semata, bersyukurlah atas nikmat ini dan janganlah sekali-kali engkau takabur. Ingatlah selalu firman-Nya :

“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah” (huud:88).

Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi kita semua wanita-wanita muslimah diatas muka bumi ini yang bercita-cita ingin menjadi bidadari-bidadari diatas dunia ini dan tentu saja diakhirat nanti, Insya Allah.

Sumber: Assunnah

Sunday, January 18, 2009

Oh Ujian!!

Redup,
Ceria,
Aman,
Tenang,
Sungguh Bahagia,
Mengapa Hanya Sedikit yg Bersyukur?

Kerana Ujian Kita Mengeluh,
Iman Menjadi Lusuh,
Lupakah Manusia?
Ujian Mengiktiraf Iman,
Juga Menghapus Dosa,

Allah Arif Kemampuan kita,
Kita Mampu Menanggungnya,
Kenapa Pandang Kelemahan?
Dimana Kekuatan Iman?
Kelemahan Jadikan Kekuatan,
Itulah Ciri Orang Beriman.

Nukilan : Abu Faris 'Audah
-31/10/2008
-10.54 pm . And here is the rest of it.

Monday, December 29, 2008

Damba Cinta MU

Tuhanku ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku maafkanlah kejahilan hambaMu

Ku sering melanggar laranganMu
Dalam sedar ataupun tidak
Ku sering meninggalkan suruhanMu
Walau sedar aku milikMu

Bilakah diri ini kan kembali
Kepada fitrah sebenar
Pagi ku ingat petang ku alpa
Begitulah silih berganti

Oh Tuhanku Kau pimpinlah diri ini
Yang mendamba cintaMu
Aku lemah aku jahil
Tanpa pimpinan dariMu

Ku sering berjanji depanMu
Sering jua ku memungkiri
Ku pernah menangis keranaMu
Kemudian ketawa semula

Kau Pengasih Kau Penyayang Kau Pengampun
Kepada hamba-hambaMu
Selangkah ku kepadaMu
Seribu langkah Kau pada ku

Tuhan diri ini tidak layak ke syurga Mu
Tapi tidak pula aku sanggup ke neraka Mu

Ku takut kepadaMu
Ku harap jua padaMu
Moga ku kan selamat dunia akhirat
Seperti rasul dan sahabat

Thursday, December 25, 2008

Islam Untuk Semua


Assalamualaikum wbt

Kurang lebih 5 hari lagi, MPI yang kelima dlm hidup saya tiba lagi.InsyaAllah yg terakhir untuk saya. Majlis perasmian yang akan berlangsung pada 30 Dis ini sedang heboh diperkatakan tentang gimiknya. Dengan bertemakan "Islam Untuk Semua", MPI kali ini diharapkan dapat memberikan impak yg besar dalam pembangunan dakwah kampus, juga ilmu2 yang berguna kepada kita selaku pelajar Muslim.

Bagi saya, pemilihan tema ini sangat berketepatan dengan suasana masyarakat kita yang semakin keliru tentang bagaimanakah Islam yang sebenar-benarnya.Kekeliruan ini bukan sahaja membelenggu non-muslim, tapi juga muslim itu sendiri. Kebatilan dan kebenaran semakin sukar untuk dibezakan, sehinggakan perkara yang tercela di sisi Allah seakan sudah dihalalkan di sisi manusia.

Antara sebab utama perkara ini berlaku ialah kelemahan umat Islam sendiri dalam mendalami ajaran Islam. Kita mengambil Islam itu secara superficial, tanpa berusaha untuk menyelami dan memahami tujuan sebenar ajaran Islam. Apabila ini berlaku, maka lahirlah golongan yang menampilkan ajaran Islam yg tidak menyeluruh, seterusnya menyempitkan segala kelonggaran yang diberikan oleh Allah swt kepada kita. Semakin ramai bukan Muslim yang salah anggap pd Islam disebabkan perilaku dan kelemahan orang Islam. Sedangkan Islam itu unggul, Islam untuk semua..

MPI sebenarnya sangat istimewa untuk saya. Moodnya berbeza. Rasa terisi.InsyaAllah, sy akan berusaha hadir dlm setiap aktiviti. Antara yg paling memberi kesan ialah Hari Untukmu Wanita. Saya lihat ia adalah satu jalan dakwah yang terbentang luas, sangat rugi jika tidak dimanfaatkan. Mungkin ramai di kalangan penonton hadir untuk memberi sokongan pada batch masing2, tetapi moga dibukakan hati mereka oleh Allah untuk menerima peringatan yg dihidangkan. Tak banyak, sikit pun jadi.

Dari segi ukhuwwah, ia semakin mengeratkan kami. Tambah lagi sejak naik tahun 4. Jarang untuk kami muslimat sama2 berkumpul, memerah idea, dan bersama berkorban masa serta tenaga untuk dakwah. Sangat manis dan istimewa. Walaupun hanya satu malam diperuntukkan untuk itu semua, tapi sangat mengesankan apabila segala2nya berlaku semata2 kerana Islam.

Untuk tahun ini, saya hampir merasakan kami tak berpeluang untuk menyumbang memandangkan kekangan masa. Tapi alhamdulillah...dikurniakan sahabat2 yang bersemangat untuk menyumbang walau sedikit, kami semakin menguatkan antara satu sama lain.

Apa yang diharapkan, sesiapa sahaja yg hadir, baik di Hari Untukmu Wanita atau apa sahaja aktiviti pada MPI kali ini, memulakan langkah bukan hanya untuk menghadirkan diri semata2, tetapi menyediakan hati yang tawadhuk, ikhlas dan bersedia untuk menerima peringatan. Semoga Allah swt memberkati hidup ini siang dan malam, tika susah dan senang. Ameen..

Wednesday, December 24, 2008

Jom Hijrah!!


Assalamualaikum wbt

Alhamdulillah, dlm kita sibuk dengan peredaran masa dan tuntutan hidup, tanpa kita sedar awal muharram menjengah lagi.Bila tiba shj awal muharram,teringat balik azam2 yg dibuat pd awal muharram yang lalu. Banyak lagi yang tak tertunai.Dalam kepala sudah bersusun azam2 yang baru. Kadang2 rasa putus asa pun ada. Rasa malas nak fikirkan azam yg baru, memandangkan yang lama masih tak settle2..

Bila disingkap semula sejarah penghijarahan Rasulullah saw dan para sahabat dari kota Mekah ke Madinah, ia sebenarnya memberi impak yang sangat besar kepada Islam, baik dari sudut dakwah, ukhuwwah atau syiar Islam itu sendiri. Di sini sebenarnya kita harus bermula. Kita lewati semula sirah penghijrahan ini, ambil sebanyak mana hikmah, pengajaran daripadanya, seterusnya menjadikannya modal juga panduan untuk kita berhijrah ke arah yang lebih baik.

Peristiwa hijrah Rasulullah membuktikan betapa baginda serta para sahabat telah berkorban jiwa dan raga bagi menegakkan serta memperkemaskan jaringan dakwah Islamiyah. Ia sebagai refleksi pada diri bahawa setiap kejayaan tidak akan datang dengan mudah, tetapi menuntut pengorbanan yang bukan sedikit. Bekalannya, SABAR dan MUJAHADAH!

Penghijrahan Rasulullah juga menggambarkan kepada kita betapa erat,kukuh dan indahnya ukhuwwah Islamiyyah di antara kaum Aus & Khazraj dengan kamu muhajirin sehingga sanggup membantu apa sahaja dengan apa yang mereka miliki.Bandingkan dengan tahap ukhuwwah kita kini sahabat2. Sanggupkah kita beri benda yang kita sayang, walaupun sehelai baju sekalipun, sekiranya ia disukai oleh sahabat kita??

Bila bercakap soal hijrah, sememangnya bukan satu perkara yang mudah. Hijrah yg saya maksudkan di sini ialah penghijrahan diri, jiwa dan iman. Kita sepatutnya tak pandang remeh perkara ini memandangkan usia yang semakin meningkat. Bila kita masih membenarkan diri dibelai dengan keasyikan dunia, serta hanyut dibawa arus kealpaan, bererti kita sedang menzalimi diri sendiri. Kita tidak berlaku adil terhadap diri dengan membiarkan usia yang berlalu tersia begitu sahaja. Akibatnya, semakin ramailah belia Islam yang tidak boleh diharap utk membela agama yg muncul, di saat umat Islam membutuhkan generasi yang mempunyai keazaman serta ketakwaan yang tinggi.

Oleh sebab itu, tidak dapat tidak, setiap dari kita harus memiliki semangat, azam yang jelas untuk melakukan anjakan paradigma dalam hidup yang semakin menghimpit ini. Hijrah yang sebenar tidak akan berjaya tanpa kehadiran gandingan iman dan jihad. Kedua-duanya perlu berjalan seiiring.

Sahabat-sahabat2 yang saya hormati, jom kita berhijrah. Muhasabah diri dengan sejujur-jujurnya. Cari silap dan kelemahan diri tanpa ego. Gariskan methodology yang praktikal dan rasional untuk mengatasinya. Paling penting, sandarkan ia kepada Allah semata-mata. Pasti ada rintangannya sahabat2. Syurga bukan murah. Penghijrahan juga bukan mudah.Tapi, yakinlah dengan sepenuh hati yang Allah akan membantu kita. Allah kan sebaik-baik penolong.. Semoga penghijrahan ini diberkati Allah swt..